Artikel Terbaru :

24 Mei 2013

Perubahan yang Hakiki

Mayoritas dari umat Islam merupakan Islam keturunan atau dengan kata lain ia muslim karena terlahir orangtua yang muslim. Mungkin inilah yang menyebabkan jumlah umat Islam yang besar sebenarnya masih belum memiliki pemahaman yang utuh sehingga belum mampu menampakkan nilai-nilai kebaikan sebagaimana yang dulu dicapai pada generasi awal umat ini. Contohnya, negeri kita yang berpenduduk mayoritas muslim belum mampu menjadi pelopor peradaban yang mencontohkan nilai-nilai kebaikan bernuansa akhirat maupun menjadi kiblat kemajuan duniawi. Apa sebenarnya yang perlu dibenahi?
Mari kita tengok kembali bagaimana aplikasi keislaman para sahabat Rasulullah yang mendapatkan tarbiyah langsung dari penghulu para nabi ini. Sebagian dari para sahabat nabi dulunya pernah melakukan hal-hal buruk pada masa jahiliyah, sebelum mereka mengenal Islam. Namun setelah mereka bersyahadat, segala potensi kebaikan pada mereka langsung keluar menutupi keburukan yang pernah mereka lakukan. Mereka mengalami perubahan yang besar dalam kehidupannya. Pemahaman yang benar terhadap syahadat memberikan perubahan yang mendasar dalam kehidupan manusia termasuk para sahabat Rasulullah tersebut, yaitu perubahan dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
"Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (Al Baqarah: 257)
Ketika kita memahami bahwa seorang yang bersyahadat itu bersaksi bahwa tidak ada yang patut disembah, tidak ada yang patut untuk ditaati, kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka akan terjadi perubahan yang langsung menghunjam pada keyakinan, kemudian pemikiran, dan kehidupan secara keseluruhan, baik secara individu maupun masyarakat. Kesadaran untuk tunduk sebagai hamba kepada Allah yang Maha Pencipta menjadikan manusia yang bersyahadat meninggalkan segala kesombongannya. Manusia yang sadar akan hakikat dirinya yang lemah akan tunduk taat kepada aturan yang Allah berikan padanya. Manusia yang bersyahadat dengan benar akan meyakini aturan Allah sebagai pedoman hidup yang pasti akan mendatangkan kebaikan.
Segala perbuatan yang semula ditujukan kepada selain Allah, menyekutukan Allah, untuk meraih kemuliaan pribadi, berubah menjadi hanya untuk Allah Ta’ala. Berbagai berhala yang sebelumnya ditaati, apakah itu untuk memuaskan hawa nafsu pribadi, keinginan untuk berkuasa, keinginan untuk menimbun harta, sehingga mengeksploitasi orang lain, ditinggalkan semuanya.
Ketika kita memahami bahwa seorang yang bersyahadat itu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka kita meyakini bahwa memahami Islam secara utuh hanya bisa dicapai dengan mengikuti tuntunan dan teladan beliau. Maka jadilah seorang muslim memiliki sosok panutan yang sempurna yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bukan hanya mengajarkan teori tapi juga mampu memberi contoh-contoh hidup dalam segala sisinya.
Pemahaman atas syahadatain mampu merubah manusia, sebagaimana ia telah merubah masyarakat di masa Rasulullah dan para sahabat terdahulu. Sudah umum kita ketahui betapa buruknya kehidupan masyarakat pada zaman itu namun Rasulullah beserta para sahabat beliau mampu mereformasi kondisi itu menjadi kehidupan yang penuh kemuliaan. Sebagai contoh pribadi; Umar bin Khatthab adalah seorang yang dulu sangat membenci Rasulullah, ia pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup karena kepercayaan jahiliyahnya. Ia bahkan pernah menyembah berhala yang dibuat dari tepung gandum lalu dimakannya ketika lapar. Namun ketika bersyahadat, ia menjadi seorang pembela Rasulullah yang sangat ditakuti oleh musuh. Bahkan setan pun tidak berani berpapasan dengannya. Sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar ash Shiddiq, Umar bin Khatthab kelak menjadi pemimpin yang adil, beliau tidak malu memikul sendiri sekarung gandum untuk diberikan kepada seorang wanita miskin beserta anak-anaknya yang sedang kelaparan.
Dalam kehidupan sosial, masyarakat yang sebelumnya tenggelam dalam perbuatan buruk berubah menjadi kaum muslimin yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dahulu mereka gemar minum-minuman keras, tapi kemudian turunlah ayat ke-92 surat Al Maidah,
"Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)." (Al Maidah: 91)
Maka mereka segera berhenti. Ada diantara sahabat yang sedang meminum minuman keras langsung memuntahkannya, persediaan minuman keras yang disimpan segera dibuang. Sebelum Rasulullah diutus, mereka sering berperang antar suku atau kabilah. Tapi setelah bersyahadat, mereka menjadi saudara yang saling membantu dan melindungi. Sebelum Islam datang, riba merajalela namun setelah mengucap syahadat mereka segera meninggalkannya. Masyarakat menjadi aman, sehingga sangat sedikit kasus kejahatan yang terjadi.
Sebagai kesimpulan, dua kalimat syahadat mengandung nilai yang sangat penting bagi tiap manusia. Untuk mengembalikan keagungan umat Islam dengan pedoman hidupnya yang rahmatan lil ‘alamiin ini kita harus belajar memaknai kembali dua kalimat syahadat yang sudah kita hafalkan. Dengan begitu kita dapat membuang kerak jahiliyah yang masih menutupi nurani dan cara berfikir kita. Pemahaman inilah yang akan mampu menggerakkan jiwa-jiwa individu muslim, berlomba-lomba melakukan kebaikan dalam segala hal sebagai ibadah kepada Allah Ta’ala.
Wallahu a’lam.

 
© Copyright PKS Papua Barat 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.